Tanggal 10 dan 11 Februari yang lalu sepertinya memang merupakan hari yang baik, ya. Karena pada tanggal itu, Bentara Budaya Bali kembali mengadakan acara bertajuk Sinema Bentara dan kali ini spesial, loh. Dengan penuh rasa bangga, kami dari Bali kedatangan sutradara muda Kamila Andini dan tentunya, sebagai sutradara, ia membawa karya-karyanya yang menakjubkan termasuk film terbarunya, Sekala Niskala, yg bakal tayang di bioskop tanggal 8 maret nanti, wihiiii.
Aku merupakan salah satu orang yang beruntung karena bisa hadir pada kedua hari acara sinema bentara khusus karya Kamila Andini tersebut. Selain karena nontonnya gratis (thank you very much for Bentara Budaya Bali), karya-karya Kamila Andini yang ditayangkan pun semuanya merupakan kind of movies yang belum pernah aku tonton sebelumnya. Apalagi, semua karya tersebut berhasil menjadi nominasi maupun meraih pengharggaan dalam festival film internasional. Such a great films!
Bagi aku yang masih pemula dalam film, film-film karya Kamila Andini yg kutonton waktu itu begitu menyita perhatianku. Dalam pikirku, aku berpikir. Apakah begini ya style-nya film yg tujuannya untuk festival? Hehe. Ada 4 film yang kutonton dalam dua hari tersebut. Pada hari pertama aku menonton The Mirror Never Lies, Sendiri Diana Sendiri, dan Memoria. Pada hari kedua, aku menonton karya terbarunya yaitu Sekala Niskala, serta ikut mendengarkan diskusi film yang diadakan antara penonton dan kru film.
Sebenarnya, ketika melihat teaser serta trailer mengenai film Sekala Niskala tersebut, aku memiliki ekspetasi yang cukup besar dalam film tersebut. Tentu saja ekspetasi itu muncul juga karena merasa tumben, loh, ada yang buat film tentang budaya Bali dan itu masuk bioskop! Bahkan, begitu tahu kalau Kamila Andini sebagai sutradara ternyata bukan merupakan orang Bali, aku jadi berpikir, gimana sih Sekala Niskala dalam garapannya??
Dan ternyata....
That's a great movie. But. Hmm.
This kind of movie enggak dibuat untuk orang-orang pemikiran rendah kayak aku :(
Jadi, ya, gini nih cerita yang aku perkirakan ketika baru nonton teaser serta trailernya aja:
Tantra dan Tantri adalah kembar laki-perempuan. Berdasarkan mitos di Bali, anak kembar buncing enggak bisa hidup bersama dan harus ada salah satunya yang mati, walau kembar buncing adalah simbol keseimbangan. Tantra sedang sakit parah dan Tantri merasa kesepian. Namun, sebenarnya ada hal-hal niskala di sekitar Tantra dan Tantri sehingga Tantra harus sakit.
Tapi nyatanya: banyak banget semiotika. Aku bahkan belum bisa membuat kesimpulan yang pasti karena adegan-adegan yang muncul masih bagaikan puzzle di pikiranku :(
Yang aku bisa tangkap, film Sekala Niskala tersebut bercerita tentang Tantra dan Tantri, kembar buncing yang melambangkan keseimbangan. Tantra sakit keras. Tantri merasa sedih dan kesepian. Kemudian setiap malam, Tantri bermain dengan 'jiwa' Tantra, dalam artian Niskala (Unseen)nya, di Rumah Sakit. Udah gitu aja, kok aku berasa bego ya?
Alur, Konflik, dan Adegan yang Belum Kumengerti
Alurnya rasanya datar, bagiku. Karena dari awal sampai akhir, aku enggak kebawa suasana filmnya (karena bego enggak ngerti). Aku bahkan enggak tau goals dari film ini apa. Ya, kayak misalnya kita nonton drama korea untuk ngeliat kedua tokoh utamanya jadian. Atau enggak jauh-jauh deh, kayak film The Mirror Never Lies yang tujuannya untuk mencari bapaknya Pakis yang 'hilang'. Aku enggak berhasil menemukan tujuan film ini. Yang aku temuin cuma kedekatan yang erat antara hubungan kembar buncing Tantra dan Tantri dalam dunia sekala (nyata) maupun niskala (tak kasat mata) karena kondisi Tantra yang jatuh sakit.
Kemudian, karena pemikiranku yg hanya sampai segitu, aku juga enggak bisa secara tegas mengatakan konflik yang muncul dalam cerita ini. Paling yaaa hanya ketika kedua orangtuanya gak mampu untuk bayar uang rumah sakit (kurasa enggak sih, karena di film ini enggak ada solusinya), atau enggak mungkin konflknya ya sekedar Tantri yang kangen sama Tantra tapi enggak suka kamar Rumah Sakit jadi enggak bisa masuk ke kamar rawat Tantra untuk menjenguknya. Solusinya, dia bermain ketika subuh dan dalam dunia niskala. Gitu.
Setidaknya, karena diskusi film yang diadakan malam itu juga, aku tahu kalau sebenarnya kak Kamila Andini membuat film ini berangkat dari ide mengenai cerita anak-anak yang dikaitkan dengan dunia mistis, tapi bukan dalam genre horror dan mampu mengangkat tema budaya. Apabila dilihat dari tujuan awal tersebut, yaaa... tercapai sih. Seandainya aku mengerti keseluruhan dari tanda-tanda yang diselipkan dalam setiap scene film tersebut, aku pasti akan lebih mampu menyatakan bahwa film ini bagus.
Yang bisa aku nyatakan dengan pasti, film ini termasuk film yang konsepnya out of the box. Maksudku yaa beda lah dengan film yang selama ini kutonton (back to: apa kayak gini stylenya film festival?). Aku tidak tahu apakah unsur-unsur yang akan kusebutkan ini - seperti telur daksina, bulan purnama, kisah niskala di sawah, cerita sang hyang ratih, lagu sekar emas, adegan Tantri yang tidak menemukan kuning telur pada telur rebus yang dimakannya, maupun permainan tarian ayam yang dimainkan Tantra dan Tantri - merupakan semiotika dalam film ini.
Kata kak Kamila Andini ketika diskusi, telur daksina yang diambil oleh Tantra dan dibagi dengan Tantri untuk mereka makan, sebenarnya hanya sebagai pengantar bahwa mereka berdua saling berbagi. Ia berkata bahwa ia tidak kepikiran untuk membuat adegan itu menjadi seperti Tantra mengalami kesialan akibat mengambil telur dari daksina tersebut. Tantra dan Tantri yang berbagi kuning dan putih telur ketika makan pun, ia katakan sebagai pengalamannya.
Kalau soal bulan purnama, bagi kak Kamila sendiri, bulan melambangkan siklus.
Dari diskusi yang panjang malam itu... aku cuma ingat bagian itu saja. Maaf.
Sebenarnya, aku kurang puas dengan jawaban/pernyataan kak Kamila tersebut. Entah karena kak Kamila kurang pandai dalam mengutarakan pemikirannya atau aku yang kurang pandai menangkap maksud kak Kamila sendiri, bagiku jawaban seperti itu justru mencerminkan bahwa ia kurang dalam melakukan riset mengenai sekala niskala di Bali. Atau kalau memang ia sudah meriset dengan dalam, penempatannya dalam film kurang rapi, sehingga menyisakan potongan puzzle yang masih berserakan dalam pikiran penonton (tentunya yang masih awam dan pemula) (maaf atas pernyataan ini. Anggap saja saya yang masih terlalu bodoh).
Oh iya. Saya tidak tahu apa hanya saya saja yang berpemikiran seperti ini. Tapi idealnya, apabila Tantra mengalami sakit keras hingga keseluruhan inderanya tidak lagi berfungsi dengan baik, mengapa ia masih dirawat inapkan di ruangan yang (kelihatannya bagi saya) kurang memadai fasilitas kesehatannya? Semacam kamar rumah sakit kelas 3.
Sudahlah, biarkan.
Tokoh dan Akting
Lupakanlah soal alur cerita yang menurutku pasti cukup sulit untuk dimengerti oleh orang awam. Aku sangat mengapresiasi kak Kamila dan tim yang telah memilih Bali sebagai bagian dari proyek filmnya kali ini. Bahkan bagiku, kak Kamila sudah cukup berhasil mengangkat image Bali yang bukan sekedar pada pariwisatanya, namun lebih berani mengangkat budaya yang ada pada Bali itu sendiri.
Aku juga senang bahwa sineas luar Bali seperti kak Kamila dan tim juga memilih orang Bali asli sebagai talent dalam karyanya. Tentunya ini membuka kesempatan bagi masyarakat Bali untuk mencoba masuk ke dunia akting di tingkat nasional. Bahkan mungkin bisa dibilang internasional, ya, karena film ini sendiri sudah tembus ke internasional. Akting Thaly Kasih sebagai Tantri dan Gus Sena sebagai Tantra patut diacungi jempol. Aku bisa merasakan rasa sayang Tantri kepada Tantra yang cukup besar, walaupun kata-katanya tidak selembut perasaannya. Namun kalau aku boleh jujur, aku lebih suka akting Gita Novalista pada film The Mirror Never Lies daripada akting Thaly. Selain itu, cukup disayangkan pula karena karakter Tantra tidak memiliki adegan yang ringan dan penuh candaan. Padahal ketika diskusi film, ketawa-nya Gus Sena terasa sangat polos dan menyenangkan.
Poin Plus dalam Film
Sebenarnya, film ini enggak ada minusnya, seandainya jika aku cukup pandai dalam menangkap maksud dari film ini. Yang jelas, poin yang menurutku sudah sangat perfect dalam film ini yaitu penataan musik dan audionya. Kesannya begitu hidup dan mampu mengangkat mood yang cukup mistis tersebut. Kalau penataan gambarnya, aku tidak bisa menilai banyak. Bagiku penata gambar sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Hanya saja, karena latar pada film ini lebih banyak terletak di rumah sakit, rumah Tantra dan Tantri, dan juga sawah, serta latar waktu antara subuh atau petang, aku cukup merasa bosan. Karena bagiku pemandangan-pemandangan tersebut kurang punya nilai untuk dikategorikan sebagai pemandangan yang indah.
Kesimpulan:
Seperti kata Reza Rahadian dalam sebuah artikel, film ini tidak over dramatic, tidak mellow, namun sangat dramatis. Film ini akan menjadi sangat bagus apabila penontonnya mampu berpikir secara luas sehingga ia mampu untuk mengerti keseluruhan dari film Sekala Niskala ini. Walau maksud dan tujuan kak Kamila Andini yang dituangkan dalan film ini kurang mampu untuk menjangkau seluruh pemikiran orang awam, namun setidaknya film ini mampu menyentuh perasaan orang-orang pada festival film kancah internasional hingga berhasil meraih penghargaan tersebut. Ini pengalaman pertamaku menonton film jenis film festival, jadi film ini kurasa tak akan mudah berlalu dari ingatanku, apalagi dalam keadaan diriku yang masih penasaran akan jalan cerita yang belum kumengerti secara utuh.
Kuharap, seiring aku yang terus belajar dan waktu pun berlalu, aku akan mengerti mengenai film ini secara keseluruhan. Tidak lagi berkomentar berdasar pada opini, namun juga mampu membawa beberapa teori-teori film sehingga kualitas tulisanku menjadi lebih baik. Sangat beruntung dan bahagia rasanya karena bisa menonton dan hadir pada acara diskusi film bersama tim produksi film itu sendiri.
Kuharap, kak Kamila juga akan kembali membuat film bertema budaya dan mampu menembus festival film internasional. Dan tentunya, terima kasih atas kesempatannya untuk di Bali. See you next time!!

1 Komentar
Great review icha!
BalasHapus