"Aku marah setiap melihat tanda salib. Karena saat ayahku meninggal, Tuhan tidak melakukan apa-apa" - Park Yong-hoo.
[Lebih baik nonton dulu baru baca, kalau gak mau spoiler]
Setelah melihat trailer film The Divine Fury saat akhir bulan Juli kemarin, aku segera memutuskan kalau aku harus nonton. Bukan hanya karena pemainnya Park Seo-joon dan sutradara Kim Joo-hwan berhasil membuatku takjub dengan film sebelumnya yaitu "Midnight Runners", tapi juga ide ceritanya yang unik bagiku. Bagaimana sih topik ketuhanan ala kristiani kalau diolah dengan genre horror-action? Apa endingnya juga bakal sebatas tokoh utama Park Yong-hoo yang akhirnya mau percaya pada Tuhan?
Enggak sesederhana itu.
Park Yong-hoo bukannya tidak percaya pada Tuhan, tetapi ia membencinya. Seseorang tidak akan bisa membenci kalau ia tidak mencintai. Perjalanannya hingga akhirnya terbiasa melihat tanda salib sebagai simbol Tuhan ditunjukkan melalui kehadiran setan-setan yang merasuki jiwa beberapa orang pada film ini. Sebagai seorang mixed martial arts fighter dan karunia stigmata di telapak tangannya, Young-hoo ikut membantu Pastur Ahn (diperankan Ahn Sung-ki) untuk membasmi setan-setan tersebut.
Jujur, aku enggak terlalu puas dengan cerita film ini. Fokus awal film yang menunjukkan petarung Park Yong-hoo dengan segala kebenciannya terhadap Tuhan, menjadi berubah ketika ia mau tidak mau harus menyadari keberadaan Tuhan. Cerita film mulai bergerak ketika telapak tangannya terus menerus mengeluarkan darah setiap kali ia tertidur dan bermimpi buruk. Belakangan diketahui kalau telapak tangannya yang luka membentuk sebuah tanda salib/stigmata, dan darahnya keluar karena berusaha melawan setan-setan yang mengganggunya. Tanda salib tersebut diberikan oleh ayahnya (sebagai representasi leluhur) yang sudah meninggal melalui mimpi saat Yong-hoo masih kecil, dan 'ditegaskan' kembali saat Yong-hu sudah dewasa.
Bagiku, aneh rasanya ketika adegan mimpi buruk dan telapak tangan membentuk stigmata dimunculkan seolah-olah itu adalah pertama kalinya ia mengalami hal tersebut. Seakan stigmata di tangannya tersebut disengajakan muncul agar Yong-hoo bertemu dengan Pastur Ahn dan membantunya membasmi setan-setan. Keberadaan iblis-iblis pada awal film yang mengganggu Yong-hoo juga menghilang di pertengahan film, mungkin karena sudah diusir oleh stigmata di tangannya, ditambah kehadiran pastur Ahn di dekatnya yang menebar aura positif? Kalau memang begitu, hahaha kok aku gak sadar ya :(
Mungkin karena film The Divine Fury ini bakal ada sekuelnya - katanya sih judulnya The Green Exorcist - jadi banyak hal yang masih janggal dan belum terjawab sampai ending film. Aku enggak ngerti film ini sebenarnya lebih mau menonjolkan kepercayaan seseorang akan ketuhanannya, atau adegan-adegan pembasmian iblis yang bawa-bawa Tuhan. Kalau mau balik lagi ke kalimat pertama yang aku tulis di postingan ini, aku pikir film ini bakal menunjukkan eksistensi ketuhanan yang enggak seharusnya dilecehkan. Kekuatan Tuhan yang disajikan pada film ini terbatas hanya pada mantra-mantra, simbol seperti salib, dan kehadiran ayah Yong-hoo yang sudah meninggal sebagai representasi dari leluhur. Walau sebenarnya agama dan ketuhanan lebih dari itu.
Lawan dari "Tuhan" pada film ini ada pada tokoh Ji Shin (diperankan Woo Do-hwan) sebagai uskup hitam penyembah ular suci. Tanda salib terbalik menjadi simbol bahwa ia bertentangan dengan ketuhanan dan menyelami ilmu hitam (kalau di Bali, mungkin dia mempelajari sejenis bebainan atau ilmu pengleakan hitam lainnya). Kalau aku simpulkan, supaya Ji Shin tetap terus tajir melintir, ia mencoba merenggut jiwa orang-orang dengan mengirim setan untuk merasuki orang tersebut lebih dahulu. Karena setan yang ia kirim terus menerus dimusnahkan oleh Pastur Ahn dan Park Young-hoo, maka ia pun hendak memusnahkan mereka berdua.
Film ini berakhir dengan kemenangan Park Yong-hoo - yang sampai akhir tetap berkata dirinya tidak percaya pada Tuhan - mengalahkan keiblisan Ji Shin. Kesimpulannya, Yong-hoo tetap memaksimalkan apa yang Tuhan berikan padanya walau ia sendiri tidak mau percaya bahwa Tuhan akan menolongnya.
Film ini berakhir dengan kemenangan Park Yong-hoo - yang sampai akhir tetap berkata dirinya tidak percaya pada Tuhan - mengalahkan keiblisan Ji Shin. Kesimpulannya, Yong-hoo tetap memaksimalkan apa yang Tuhan berikan padanya walau ia sendiri tidak mau percaya bahwa Tuhan akan menolongnya.
Terlepas dari topik film yang serius karena bawa-bawa Tuhan dan agama, lebih baik kita menikmati filmnya melalui aspek teknis yang disajikan.
Aku enggak mau repot-repot nonton film di bioskop kalau enggak ada hal yang menarik perhatianku. Ya itu! Selain Park Seo-joon, udah keliatan di trailernya kalau sinematografi The Divine Fury ini enggak main-main! Filmmaker-nya memanfaatkan kontras warna biru dan oranye untuk menyajikan perbandingan antara ketuhanan dan iblis. Pada klub Babylon milik uskup hitam Ji Shin, interior ruangannya awalnya mencolok dengan lighting berwarna biru. Namun, pada jalan menuju basement tempat Ji Shin menyembah ular suci, lightingnya berwarna merah.
Selain pada warna lighting, film ini juga memainkan bayangan untuk menunjukkan hal-hal yang gaib. Seperti saat adegan ayah yang baru saja meninggal menghampiri Yong-hoo dalam mimpinya, maupun setan-setan yang wujudnya berkaki banyak saat menganggu Yong-hoo dalam mimpinya. Aku juga suka karena pada film ini lebih sering menampilkan long shot-medium shot untuk adegan bertarungnya, sehingga aku bisa merasa turut serta ikut ada dalam film menyaksikan pertarungan.
Setan-setan pada film ini dimunculkan melalui tata artistik yang baik. Detail banget, mulai dari mata merah sebagai indikasi kalau dalam diri orang tersebut ada setan yang merasukinya, api dan 'air suci' untuk membasmi setan-setan tersebut, memar-memar, hingga wujud uskup hitam Ji Shin saat adegan klimaksnya (kayak monsteeeer!) Semuanya digarap dengan serius lah pastinya ya. Cek aja di video behind the scenenya!
Aku tidak menyesal sih telah memilih nonton film ini. Malah, aku merasa ingin nonton kembali, barangkali aja ada yang terlewat, hehe. Aku suka film ini karena menyajikan pembasmian iblis dipadu dengan tokoh utamanya sebagai petarung (walaupun jadinya fokusnya kemana-mana, sih) serta bumbu drama yang hampir enggak pernah absen di setiap film-film Korea. Yah, walau selera orang beda-beda, tetap apresiasi yaa!)









0 Komentar