Sederhana, tapi fantastis. Kira-kira begitulah yang bisa aku sampaikan tentang film ini. Kreativitas filmmaker dalam membingkai perbandingan kehidupan antara si miskin dan si kaya terwujud dengan baik dan sangat mudah dimengerti. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa film produksi Korea ini bisa dapat award di festival film bergengsi Cannes dan jadi viral di lingkunganku yang biasanya gak pernah heboh karena film Korea.
![]() |
| poster film Parasite |
Sebenarnya, awalnya aku gak ada niatan untuk posting review versi aku di blog, sih. Karena hampir semua orang yang sudah nonton film parasite ini bakal bilang ke orang-orang "bagus banget "recommended banget" "100 buat film ini" "luar biasa" dan sejenisnya. Bukannya gak setuju sama pendapat mereka, tapi bagiku sepatah dua patah kata enggak akan cukup untuk mengapresiasikan film ini. Dengan review yang aku posting sekarang ini, setidaknya perasaanku setelah nonton film parasite akan abadi melalui sebuah tulisan, dan bisa kubaca-baca lagi kalau lagi-lagi aku rindu dengan tulisanku yang payah ini, hehe.
nonton trailernya dulu, yuk.
Sedihnya, aku ketinggalan beberapa scene di awal film ini. Dengan kata lain, aku telat masuk (bego bgt sih kamu cak). Begitu aku masuk ke ruangan, layar sudah menampilkan aktor Park Seo-joon dan Choi Woo-shik yang lagi berdiskusi soal pekerjaannya menjadi tutor les bahasa inggris. (Masihh untung aku gak ketinggalan adegan ini, soalnya park seo-joon cuma jadi cameo. Doi lebih ekstra ganteng kalau tampilnya di layar lebar!!!! Ga sabar deh nanti The Divine Fury tayang :')). Singkatnya, keluarga tokoh utama Ki-woo (diperankan Choi Woo-shik) enggak akan menjadi parasite apabila enggak ada kesempatan mengajar les bahasa inggris dari teman Ki-woo, yaitu Min (diperankan Park Seo-joon).
Ide memang bisa didapat dari mana saja, sih. Tapi aku gak tau kalau penulis sekaligus sutradaranya, yaitu Bong Joon-ho, dapat ide pertamanya dari mana. Entah mulai dari sebuah keluarga miskin yang ingin hidup kaya dengan menumpang bekerja di keluarga kaya, atau justru ia pertama kali memikirkan adegan klimaks pada film parasite ini di otaknya, sehingga mencoba mengait-ngaitkannya dengan cerita antara keluarga miskin dan keluarga kaya. Yang jelas, pembangunan ceritanya oke banget. Kita sebagai penonton dibiarkan senang dengan rencana keluarga si miskin yang awalnya mulus, lalu selanjutnya kita dibuat tegang dan cemas dengan apa yang akan terjadi pada mereka semua. Intinya, emosi penonton dibuat naik turun, lah. Enggak bakal ada yang berani skip nonton dan keluar dari bioskop, kalau mereka enggak mau dibuat mati penasaran. Kira-kira gitu sih.
![]() |
| Sumber: https://www.instagram.com/dntlrdl/ |
Karena perasaanku pun ikut terguncang setelah selesai menonton film parasite, aku pun enggak tahan pengen ngasi tau teman terdekatku kalau film ini memang bagus sesuai kata orang-orang, pun kepada bapakku sendiri yang manggut-manggut aja saat kuceritakan filmnya seperti apa, hehe. Setelah menonton filmnya, aku seakan tersentak dan tersadar kembali akan tujuan awalku memilih untuk hidup dengan membuat film. Iya, untuk menginspirasi. Untuk telling stories to everyone. Setelah hampir dua tahun kuliah film, pemikiranku mulai sama saja dengan teman-temanku yang lebih memikirkan shot yang gagah ketimbang cerita film yang matang dan menginspirasi. Ya gimana gak kayak gitu, sudah berapa kali coba ceritaku ditolak karena "maaf ya, ceritamu kalau diwujudin shotnya bakal biasa aja" atau bahkan bilang gini ke cerita orang lain "gagah tuh adegannya, tar shotnya bakal diambil bla bla bla". Maaf ya, kok aku jadi curcol begini sih.
Di film Parasite, baik cerita yang menginspirasi maupun eksekusi teknikalnya berjalan baik secara beriringan. Seorang sutradara memang sebaiknya enggak melupakan kedua hal tersebut, nanti jadinya malah timpang, apalagi pada film ini sutradara dan penulis naskahnya adalah orang yang sama. Jujur saja sih, siapa coba yang enggak bakal amaze ngeliat set banjir dan top angle shot nya yang memperlihatkan bagaimana porak porandanya warga yang tinggal di lantai semi basement untuk menyelamatkan barang berharganya. Atau mungkin bahkan color grading yang berbeda antara suasana rumah si kaya dan suasana kehidupan keluarga si miskin. Belum lagi adegan klimaksnya hehe.
Pengadeganannya juga diarahkan sebaik mungkin oleh sang sutradara. Tentang bagaimana cara sutradara meyakinkan penonton bahwa aktor seganteng Choi Woo-shik dan aktris secantik Park So-dam sebenarnya adalah orang dari keluarga miskin, si nyonya besar dari keluarga kaya yang rada bego dikit kenapa mau mau aja kena tipu, hingga cara bicara kepala keluarga si keluarga kaya yang kedengarannya berkarisma banget dan kadang penuturannya agak sarkas. Well, mereka seperti bukan Choi Woo-shik dan Park So-dam yang pernah aku tonton di drama! Akting para aktor-aktris di film ini daebak banget lah.
![]() |
| Sumber: https://www.instagram.com/dntlrdl/?hl=id |
Balik lagi ke ide yang sederhana, tapi fantastis. Kehidupan permukiman semi basement di kota besar seperti Seoul adalah suatu cara pandang unik dari seorang sutradara untuk telling stories to everyone. Shooting di tempat semacam itu bagiku melelahkan, juga beresiko. Susah lo membingkai sesuatu yang sejatinya kurang indah supaya masih bisa dipandang mata, atau istilahnya masih estetik lah. Melihat keluarga miskin pada film ini susah payah hidup di rumah lantai semi basement, aku jadi bersyukur karena masih bisa tidur dengan tenang di kasur. Katanya, orang bisa miskin karena malas, tapi mereka kan gak malas, cuma salah langkah aja memilih untuk cepat kaya dengan cara menipu. Penonton dibuat kadang kasian sama si keluarga miskin, kadang kasian juga sama si keluarga kaya kenapa apes banget kena tipu dan berujung tragis, dan kasian juga sama sepasang pasutri yang bakal 'menyalakan api' di ending film Parasite ini. Sutradaranya sukses menyajikan multiple point of view, didukung dengan alur bercabang dengan fokusnya pada keluarga miskin yang ingin kaya dengan menumpang hidup dengan keluarga si kaya.
Kalau endingnya... aku fine fine aja sih. Kadang cerita pada suatu film memang cukup berhenti sampai di sana aja, kalau dilanjutin nanti bisa jadi sinetron hehe. Mereka yang menipu, sesungguhnya menyebabkan orang lain ikut rugi. Akhirnya pun mereka semua sama-sama rugi. Sama-sama kehilangan. Sungguh kisah tragis yang kalau dipikir-pikir bisa bikin ketawa karena rasanya kok sepele ya, bagai sebuah lelucon.
Overall, aku suka karena film ini lebih fokus pada kehidupan keluarga si miskin. Karena orang-orang yang nonton film kebanyakan berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas, kurasa pembuat film Parasite ini juga seakan ingin menyadarkan kepada orang-orang dengan tingkat ekonomi tersebut supaya bisa memandang ke bawah, bahwa ada orang lain yang nasibnya lebih buruk daripada kita. Lihat saja dengan apa yang dilakukan oleh keluarga si kaya. Alih-alih berderma, mereka lebih memilih untuk mengadakan pesta dengan teman-teman sesama orang kaya. Bahkan mereka pun seperti anti dengan 'bau miskin' yang melekat kuat pada kepala keluarga si keluarga miskin. Begitu juga dengan keluarga miskin agar tidak malas dengan menjadi parasite pada keluarga si kaya. Enggak ada yang benar pada film ini, dan enggak ada tokoh yang sempurna. Sesuai dengan realita kehidupan, hehe.
![]() |
| Anyway, thanks for reading! Maaf kalau ada kesalahan kata atau kesalahan penuturan. Have a good day! |




0 Komentar