Conan main ke Singapura?
Kenapa gak sekalian ke Bali ajaaa???
.
.
.
Eh, gajadi dah. Nanti bisa jadi perang besar :D

Poster Official Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire

Sudah hampir setahun sejak aku menulis review untuk Detective Conan Movie 22 - Zero the Enforcer, ya? Akhirnya kini kita bisa menikmati Conan the Movie di bioskop beberapa hari lebih cepat dibanding tahun lalu. Mungkin karena Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire ini berhasil mengalahkan rekor penjualan Avengers: Endgame di Jepang bulan April lalu? :D

Setelah nonton filmnya.. enggak heran sih kalau orang-orang Jepang lebih memilih nonton The Fist of the Blue Sapphire ini daripada Endgame. Karena movie 23 ini memang beda banget sama conan the movie yang sebelum-sebelumnya! Denger-denger sih, yang menyutradarai film ini cewek, lho. Tomoka Nagaoka! Selain itu, pada film ini juga sang filmmakernya sadar dengan hal-hal yang 'menjual' dalam film Conan, yaitu hal-hal yang gak nyata tapi bisa nyata di film conan. Semuanya dirangkai secara all-kill dalam The Fist of Blue Sapphire ini. Tebak apa hayooo? 

Avengers:Endgame / Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire ?

Aku review melalui beberapa poin yang aku anggap penting, ya.

The Fist of Blue Sapphire: Permata dari dasar laut yang diperebutkan pesulap (Kid), orang angkuh, dan sekelompok perompak laut

The Fist of Blue Sapphire atau nama Jepangnya Konjō no Fisuto, merupakan sebuah batu permata warna biru sapphire yang ditemukan di dasar laut. Hayoo, kalau sudah bicara tentang permata, siapa coba yang akan datang? Tentu saja Kaito Kid! Nah, tapi ceritanya enggak sesimpel itu. The fist of blue sapphire ini tersemat di sabuk kemenangan bagi pemenang Turnamen Karate Zhounhan yang diselenggarakan di Marina Bay Sands, Singapura. Ini lokasinya di Singapura, lo. Udah jauh aja mainnya nih. Kalau ada turnamen karate internasional, maka siapa yang akan bertanding? Tentu saja si yang-tak-pernah-kalah-dalam-400-pertandingan, Kyogoku Makoto! Tumben, kan ya? Setelahnya, The Fist of the Blue Sapphire ini pun melibatkan tokoh-tokoh lain, seperti Sonoko, Ran, Kogoro, dan tidak lupa, Conan.


Kalau di Zero the Enforcer kita menyaksikan kerjasama antara Conan dan Zero yang apik, pada The Fist of the Blue Sapphire kita akan takjub dengan Conan dan Kaito Kid yang saling kompromi. Conan perlu ke Singapura untuk menghadiri turnamen karate, sedangkan Kaito Kid harus ke Singapura untuk merebut permata the fist of blue sapphire, sekaligus membersihkan namanya yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Ini tumben banget loh Conan enggak membawa malapetaka, biasanya kan kemanapun Conan pergi, maka kasus akan terjadi, hmmm. Karena setting pada film ini ada di Singapura, maka tokoh-tokohnya pun sebagian besar merupakan orang asing. Yah, dari opening scene nya kita sudah diberi tahu tokoh-tokoh dengan nama:

Sherilyn Tan (Pengacara)
Leon Lowe (Psikologi Kriminal)
Rishi Ramanathan (Asisten Polisi, mantan murid Leon)
Rachel Cheongu (Sekretaris Leon)
Jamaluddin (Karateka terkuat selain Kyogoku)
Inspektur Aidan (Inspektur setempat)
Zhounhan Chen (Pemilik turnamen Zhounhan dan permata the fist of blue sapphire)
Nakatomi Reijiro (Pemilik Nakatomi Shipping, punya kapal tanker)
hingga Eugene Lim (Perompak)

Kaito Kid tertuduh telah melakukan pembunuhan, Kyogoku hampir kehilangan Sonoko...?

Conan versi movie enggak pernah menampilkan konflik yang simpel. Pasti melibatkan tokoh yang banyak dengan alur yang bercabang. Semua tokoh punya maksud dan motifnya sendiri-sendiri. Tokoh yang paling banyak punya konflik di sini menurutku memang Kaito Kid, sih. Sejak awal film, penonton disuguhi berbagai situasi ketika Kid terancam bahaya, seperti tertuduh melakukan pembunuhan dan nyawanya terancam sebanyak dua kali. Tapi kita tahu kan' kalau Kid tidak pernah membunuh? Dia cuma mau permata the fist of blue sapphire itu aja! 

Kid bukan satu-satunya protagonis pada film ini. Masih ada Kyogoku! Kid memang berperan menggerakkan cerita film dengan mengajak Conan turut serta ke Singapura walau dengan tubuhnya yang kecil, tapi Kyogoku-lah tokoh yang membuat semua orang jauh-jauh dari Jepang untuk pergi ke sana, untuk menonton turnamen karatenya! Dari pertengahan film hingga akhir, semua keputusan akhir ada di tangan Kyogoku. Tepatnya, mungkin setelah adegan Kyogoku terkena hipnotis untuk menjaga tangannya agar tidak sembarang memukul orang? Ketika Kyogoku dan Sonoko bertengkar dalam diam, Kid dan Conan tetap menggerakkan cerita. Kid tetap berusaha meraih permata, sedangkan Conan mencoba memecahkan kasus dan mengungkap siapa pelaku sebenarnya.

All-Kill Entertaining: Bom, Aksi Kaito Kid, Tendangan Kyogoku, sampai jokes receh ala Detective Conan

Kaito Kid - Conan - Kyogoku Makoto

Ini nih yang aku maksud kalau filmmakernya sadar dengan apa hal-hal yang menjual dari Conan the Movie. Selain tokoh-tokoh dengan segala kompeksitas konfliknya, hal-hal yang menakjubkan (hampir tidak nyata tapi nyata kalau di dunia detektif conan) seperti yang aku sebut di atas benar-benar berperan menghibur penonton, lo. Oh, iya. Keindahan Marina Bay Sands Singapura juga termasuk, ya. Bangunan menjulang dengan kolam renang di atapnya itu benar-benar suatu pemandangan yang indah. Bahkan ibuku yang ikut nonton film ini bareng aku pun jadi pingin ke Singapura, hmmm, apa dalam pembuatan film ini ada suatu kerjasama agar Singapura bisa mendapat lebih banyak wisatawan Jepang???

Marina Bay Sands, Singapura. Set Lokasi Utama!

Sekarang sudah bukan zamannya Conan the Movie bercerita tentang suatu tempat/gedung yang diledakin bom lalu ada pembunuhan. Aksi Kaito Kid dan Kyogoku benar-benar menambah warna yang berbeda pada Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire ini. Ada adegan epic pada klimaks cerita saat Conan dan Kid terbang mengitari langit Singapura hingga Kyogoku yang bertarung satu lawan satu dengan karateka Jamaluddin di atap hotel. Untuk melengkapi semua itu... tentu saja diselipkan bumbu-bumbu romansa antara Kyogoku dan Sonoko (Kyogoku bisa sesweet itu lo), juga jokes ala detektif conan yang akan penonton mengerti kalau update dengan cerita conan terbaru! Tapi santai saja, walaupun enggak ngikutin cerita detektif conan, kalian tetap akan mengerti kok film ini ceritanya tentang apa.

Walaupun aku suka sekali Detective Conan, tapi aku merasa masih ada yang kurang pada film ini.. Ini semua subjektif dari aku saja sih, tapi siapa tahu kalian juga merasakan hal yang sama dengan aku. Mulai dari sini mungkin aku akan menebar spoiler, jadi boleh gak usah dibaca kok kalau gak mau tahu dulu.

Jalan Cerita Masih Khas Conan, mudah ditebak bagi Conaners~!

Leon Lowe, mantan Psikolog Kriminal

Sejak awal film, kita sebagai penonton sudah diberitahu kalau Pak Leon Lowe itu memang orang mencurigakan. Bahkan Conan sebagai tokoh utama pun mengisyaratkan bahwa ia harus hati-hati dalam bersikap di depannya. Mungkin maksudnya supaya penonton benar-benar yakin kalau Pak Leon Lowe adalah pelakunya, ya? Tapi, aku enggak terlena dong. Leon Lowe bukan satu-satunya antagonis di sini. Begitu muncul adegan saat tokoh Rishi Ramanathan bilang ke Conan kalau ayahnya adalah almarhum dan dulunya seorang oseanografer, petunjuk itu sudah cukup banget untuk memberitahu ke kita kalau Rishi itu bukan seorang asisten polisi biasa, dan kemunculannya di film ini tentu bukan sekedar numpang lewat.

Aku juga merasa ada sedikit kemiripan antara tokoh antagonis Leon Lowe dengan Moriya Teiji dari Detective Conan: The Time-Bombed Skycraper. Mereka sama-sama angkuh dan rakus, ingin menguasai kota dan membangun kota baru. Hanya saja motif Leon Lowe untuk membangun kota baru tersebut kurang kuat, mengingat latar belakangnya sebagai Psikolog Kriminal. Mungkin dia cuma angkuh dan terlalu berambisi, kah? Atau aku kelewatan sesuatu?

Terlalu banyak tokoh, porsi cerita tokoh semakin sedikit [bahkan untuk salah satu antagonisnya]

Rishi Ramanathan

Rishi Ramanathan ikut menggerakkan setir cerita pada bagian film yang hampir klimaksnya. Tapi bagian saat dia menceritakan motif serta alasan mengapa ia bertindak sejauh itu sangat sedikit dan hampir terlewat kalau penonton tidak jeli. Begitu pula dengan kehadiran Nakatomi Reijiro. Aku ngerti sih, tapi kurang paham aja karena bentar banget diceritainnya. Harus nonton ulang nih!

Tokoh Jamaluddin di sini juga seakan terus menerus diPHPin-dikasi harapan-PHP lagi-sampai akhirnya dapat yang ia mau. Dia hampir gak jadi melawan Kyogoku kan? Karena awalnya Kyogoku enggak jadi dapat sponsor dari Sherilyn Tan yang tiba-tiba meninggal. Setelah itu Sonoko, berkat keluarga Suzuki, tiba-tiba aja ngasi sponsor ke Kyogoku, ehhh ujung-ujungnya gak jadi melawan Kyogoku di turnamen.... tapi di atas atap hotel yang hampir roboh!!

Seperti biasa, kita belum mendapat jawaban mengapa Kid selalu mengembalikan permata yang ia curi, dengan alasan kalau itu bukan permata yang ia cari. Yah, karena ini film tentang "Detective Conan" sih. Kalau sadar, kalian bakal tahu kok kalau Kid ke Singapura enggak sendiri. Asistennya, Paman Jii Konosuke, sempat masuk frame di film ini loh.

Conan menyamar sebagai "Arthur Hirai"

Maaf, Conan. Tapi sepertinya kehadiranmu di sini cuma biar semua bisa numpang terkenal sama kamu... bahkan sampai harus nyamar sebagai local boy pula! Bahkan aku inget banget cuma ada satu adegan saat Conan terpisah dengan Kid maupun Kyogoku sebagai sesama protagonis penggerak cerita. 

Favorite Scene? Semuanya Favorit~ sampai ke gambar-gambar di credit title dan after creditnya! OST film ini juga dibuat khusus, judulnya "Blue Sapphire" oleh artis Hiroomi Tosaka. Boleh dicek, kok.


Segitu saja dulu, ya. Aku sudah berusaha supaya membahasnya dengan padat, kok. Tapi sepertinya malah terlalu banyak spoiler, ya? Kuharap kalian mengerti dan see you again di review detective conan movie 24... yang sepertinya bakal melibatkan gin, kah???