Pernah gak sih, kalian merasa kalau bikin film itu bukan sekedar hobi lagi? Bahwa ada alasan yang lebih kuat daripada itu.. yaitu pekerjaan! Kemudian tuntutan-tuntutan yang datang justru membuat kita gak merasakan lagi kesenangan yang didapat melalui pembuatan film itu sendiri.
Well, gak usah diseriusin kata-kataku barusan, gak ada hubungannya sama film one cut of the dead ini, kok. Cuma, film tersebut emang cocok untuk ditawari kepada orang-orang yang setuju dengan pertanyaanku tadi. Dijamin gak galau lagi, deh!
Film "One Cut of the Dead" ini memang bercerita tentang zombie, tapi jangan harap kalian bisa menemukan kisah tentang bagaimana zombie itu ada, mengapa mereka menyerang, dan sekelebat kisah zombie lainnya dengan cerita yang bisa diterima di akal. Kalian gak bakalan tau alasannya....kalau kalian cuma nonton sampai credit title dengan tulisan Jepang di sebelah kiri muncul, alias sekitar 30 menit sejak film dimulai.
Percayalah, film ini genre-nya horor-komedi, tapi bagiku, dari 96 menit penayangan tersebut lebih terasa komedinya dibanding horornya. Aku merasa demikian karena bagiku. pada film ini seakan terbagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi di depan layar dan di balik layar. Ah, mungkin bisa lebih dimengerti kalau kubilang dua sesi tersebut sebagai "on screen" dan "behind the scene".
Jadi, sekitar 30 menit pertama pada film tersebut bercerita tentang proses shooting film zombie di gedung tua yang terganggu karena serangan zombie beneran. Lalu pada menit-menit selanjutnya kita akan disuguhi cerita sejak awal kru film tersebut menerima tawaran membuat film zombie hingga behind the scene pembuatan film zombie tersebut.
Ide ceritanya sederhana, ya kan?
Sebenarnya, aku tahu film ini karena sering muncul di timeline sosial media yang biasa aku pakai. Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk nonton, tanpa tahu kalau film ini sebenarnya ada komedinya juga. Jadi, di awal-awal film itu aku merasa agak aneh, kok kurang mencekam rasanya. Kemudian aku merasa kok aktingnya lebay, dan entah dari mana tiba-tiba aku teringat omongan kalau film Jepang itu stylenya agak lebay mirip-mirip anime. Hmm, yasudahlah terima saja. Aku tambah kaget lagi ketika ada kredit title muncul, padahal rasanya baru sebentar aku duduk di ruangan itu! Eh, ternyata ada behind the scenenya~
Dari behind the scene itulah kita bisa menemukan jawaban dari semua kejanggalan itu.
Seperti yang aku bilang di awal, film ini sebenarnya enggak mengambil fokus pada zombienya. Bagiku, yang ingin diperlihatkan oleh sutradara justru dapat kita ambil pada dialog "ini film untuk program tv, bukan seni". Dari dialog tersebut, kita bisa merasakan bahwa orang-orang di balik pembuatan film "One Cut of the Dead" ini sebenarnya tidak benar-benar setuju dengan kata-kata tersebut. Ketidaksetujuan tersebut dapat kita lihat pada adegan-adegan di sesi behind the scene, dimana sekelompok kru film diceritakan tengah membuat film zombie untuk drama tv dengan budget rendah. Artinya, sekecil apapun output dari produksi film nantinya, para pejuang di balik layar akan senantiasa mewujudkan naskah film menjadi nyata tanpa peduli apapun yang terjadi.
Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak kalau film ini akan berlangsung dengan pengambilan gambar menggunakan satu kamera tanpa ada interupsi sama sekali. Ceritanya, mereka tuh disuruh untuk buat film 30 menit untuk slot di tv. Terus, si produser mintanya dibuatin film tentang kru film yang lagi shooting film zombie, eh diserang zombie beneran, dan semuanya diringkas dalam one cut, plus disiarkan secara live. Gak menyiksa tuh namanya? Bayangin lah pegelnya si kameramen kayak gimana :D mereka shootingnya pakai kamera HDTV, loh, handheld lagi! selama 30 menit!
Tapi, yaa namanya untuk pekerjaan, demi film, semuanya dikerjain oleh para kru film tersebut tanpa banyak mengeluh. Apalagi, dari film yang berhasil mereka siarkan, sebenarnya banyak banget kejanggalan dan hal-hal di luar perkiraan yang terjadi selama mereka shooting, yang bisa kita lihat dari behind the scenenya. Dari yang bisa kulihat dari behind the scene film mereka, aku seakan sadar kembali kalau sebagai filmmaker, kita harus cerdas dan cepat tanggap, terutama on set. Kita gak tahu, kan, apa yang akan terjadi saat shooting nanti? Di sanalah sebenarnya serunya bikin film, kita gak tahu kejutan apa yang akan terjadi.
Bagiku, film ini menarik bukan karena zombie-nya maupun behind the scene-nya. Film ini menarik justru karena mengambil ide yang tidak jauh dari kehidupan pembuat film itu sendiri. Balik lagi ke pertanyaanku di awal, pernah gak sih kalian merasa kalau bikin film itu sekarang bukan sekedar kesenangan lagi? Sebagai filmmaker yang menjadikan film sebagai ladang penghasilannya, tuntutan dari produser maupun klien itu sudah biasa. Terkadang, karena tuntutan tersebut, ruang lingkup kita seakan terbatas karena dibayang-bayangi oleh rating maupun kejar tayang, terutama untuk program TV. Mungkin memang hal inilah yang menjadi dasar dibuatnya film "One Cut of the Dead" ini. Lihat, dari judulnya saja, sudah menarik bagi kalangan filmmaker gak sih?
Walapun awal dari film ini (on screen pada film mereka) agak berantakan dengan akting yang agak over khas film Jepang dan beberapa plot hole, hal-hal yang mengganggu tersebut ternyata dapat ditolerir karena setelahnya kita diberitahu alasan mengapa hal-hal tersebut (terpaksa) terjadi melalui behind the scene pembuatan film tersebut. Semuanya tersusun rapi tanpa menyisakan pertanyaan yang mengganggu di pikiranku. Pada sesi behind the scenenya, para kru film terlihat sangat cekatan menanggapi segala sesuatu yang terjadi di luar kehendak demi kelancaran penayangan film mereka, dan aku benar-benar takjub karenanya. Ternyata, perjuanganku saat bikin film selama ini belum apa-apa!
Ah, tiba-tiba aku kepikiran kalau selain ingin memberi tahu tentang perjuangan orang-orang di balik layar dalam membuat film, film ini juga seakan ingin menyindir secara halus kepada para aktor maupun aktris. Hal ini dapat dilihat dari adegan ketika aktor pemeran Ko, Kazuaki Kamiya, terus-menerus mengkritik Higurashi sebagai sutradara saat latihan. Kemudian juga ketika aktris pemeran Chinatsu dengan entengnya meminta izin pada sutradara supaya adegan menangisnya dibantu oleh obat tetes mata. Ya, kalau dari yang aku tangkap sih, orang-orang di balik layar film ini seakan ingin berkata "GUE AJA YANG NYUTINGIN BERJUANG KAYAK GINI, MASAK LO AKTING NANGIS MASIH PAKAI TETES MATAAA". Ayolah, hargai sesama pekerja seni.
Oh iya, setahuku pada siaran TV di Indonesia enggak boleh menampilkan darah, adegan bunuh-bunuhan yang kejam, dan hal-hal keji lainnya. Tapi, di Jepang boleh, ya? Soalnya mereka kan ceritanya buat film zombie itu untuk ditayangin di TV, toh.
Intinya, film ini memang benar-benar menghibur, terutama ketika kalian adalah seorang filmmaker. Yaah, filmmaking is fun, make it simple aja~
Anyway, thanks for reading~ Semoga puas, lah!



0 Komentar